Teknologi komunikasi sudah berkembang pesat dewasa ini. Banyak orang yang merasakan manfaat dengan adanya perkembangan teknologi sekarang. Perkembangan teknologi tersebut contohnya adalah televisi, komputer, telepon, handphone, internet, dan sebagainya. Akan tetapi, di sisi lain ada sekelompok masyarakat yang ternyata belum bisa menikmati perkembangan teknologi komunikasi tersebut. Telah terjadi kesenjangan digital di masyarakat Indonesia. Tidak hanya antara warga kota dan desa, kota besar dan kota kecil, tetapi juga di dalam kota itu sendiri.
Kesenjangan digital atau biasa juga disebut sebagai digital divide. Kesenjangan digital dipahami sebagai gap antara pemilik atau pengguna teknologi (the have) dan mereka yang tidak memiliki dan menggunakan teknologi (the have not). Kelompok ‘the have’ inilah yang sebenarnya memunculkan gap-gap tersebut. Kesenjangan digital juga bisa diartikan sebagai gap antara sekelompok orang yang mempunyai akses ke teknologi digital dan sekelompok orang yang tidak mempunyai akses tersebut. Orang-orang yang mempunyai akses ke teknologi digital mempunyai akses ke informasi yang luas daripada yang tidak mempunyai akses sama sekali. Sehingga, orang-orang yang mempunyai akses tersebut dianggap lebih unggul. Kesenjangan digital tersebut terjadi terutama sejak penggunaan Internet secara luas dan meningkatnya arus informasi yang sangat dominan, yang didukung platform Teknologi dan Sistem Informasi. Kesenjangan digital juga terkait dengan kesetaraan memperoleh peluang.
Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah apa yang menyebabkan terjadinya gap-gap tersebut. Mengapa kesenjangan digital terjadi begitu besar. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor yang paling utama adalah faktor infrastruktur. Contohnya, orang yang bisa mengkases komputer dan internet, tentu akan lebih cepat mengerjakan sesuatu hal bila dibandingkan dengan seseorang yang memakai mesin ketik. Hal inilah yang paling mendasar. Perekonomian masyarakat Indonesia belum merata, kesenjangan ekonomi sendiri juga terjadi. Di pihak lain, seperangkat teknologi harganya relative mahal. Perangkat teknologi komputer misalnya baik hardware maupun softwarenya masih belum bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pertengahan tahun 2004 lalu Business Software Alliance (BSA), aliansi perusahaan-perusahaan piranti lunak komersial sedunia, mengeluarkan sinyalemen bahwa 87% sistem operasi dan aplikasi yang terpasang di semua komputer di Indonesia adalah produk ilegal alias bajakan. Dengan kata lain, pemerataan ekonomi mutlak diperlukan agar terciptanya peluang yang sama dalam kepemilikan seperangkat teknologi komunikasi.
Kesenjangan teknologi rupanya tidak hanya terjadi antara sekelompok orang yang memiliki teknologi dengan yang tidak. Tetapi, juga terjadi di dalam sekelompok orang yang mempunyai teknologi komuniksi dan bisa mengaksesnya. Kemajuan teknologi rupanya tidak diimbangi dengan penguasaan teknologi. Hal inilah yang membuat adanya ekslusivitas terhadap pakar atau ahli di bidang teknologi komunikasi dan informasi.
Banyak remaja yang bisa mengakses internet, tetapi tidak semuanya bisa memanfaatkannya dengan baik dan benar. Banyak dari mereka yang menggunakan internet hanya sebatas chatting saja. Padahal banyak sekali manfaat yang diperoleh dari internet. Banyak dari mereka tidak tahu harus mengakses apa. Apa yang harus mereka kerjakan dengan peralatan canggih tersebut. Bila berbicara internet di Indonesia, yang dibutuhkan adalah konten-konten dalam bahasa Indonesia. Hal ini juga merupakan persoalan yang mendasar. Tidak mungkin bila kita menyodorkan internet kepada masyarakat di mana masyarakat tersebut banyak yang belum bisa berbahasa asing. Inilah yang menimbulkan ketidaktahuan banyak orang ketika mereka mengakses internet. Mereka ingin mengakses informasi, tetapi tidak tahu caranya, tidak memahami isinya dikarenakan tidak samanya bahasa yang digunakan. Memang sudah ada konten dalam bahasa Indonesia, tetapi konten-konten tersebut belum beragam dan kebanyakan masih bersifat berita.
Persoalan lainnya yang muncul adalah masyarakat merasa belum benar-benar membutuhkan teknologi tersebut. Misalnya petani daerah A lebih paham tentang teknik terbaru pertanian ketimbang petani daerah B, lantaran petani A banyak mendapatkan informasi pertanian dari Internet. Masalahnya bukan terletak pada punya atau tidaknya komputer dan akses internet, tetapi tersedianya alternatif akses menuju ke informasi pertanian tersebut. Seharusnya ada cara lain selain komputer dan internet untuk menyamakan ilmu petani tersebut karena tidak semua petani berniat, memiliki waktu atau mampu mengadopsi teknologi komunikasi dan informasi.masyarakat.
Dari masalah di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa masyarakat Indonsia dewasa ini masih belum merasakan manfaat besar dari teknologi tersebut, karena memang tidak semua segi kehidupan masyarakat Indonesia membutuhkan teknologi komunikasi seperti di Negara-negara yang sudah maju. Banyak masyarakat yang menganggap biasa terhadap hadirnya perkembangan teknologi komunikasi ini.