Kamis, 06 Januari 2011

Kasus 3G di Indonesia

Sejak diluncurkan pada tahun 2006, teknologi generasi ketiga (“3G”) telah menjadi jargon yang merepresentasikan teknologi tinggi dalam jaringan komunikasi nirkabel, khususnya dalam teknologi Global System for Mobile telecommunication (“GSM”). Orang-orang sering bertanya satu sama lain, “Kamu punya ponsel 3G?” atau “Ponsel kamu mendukung 3G tidak?”. Remaja dan anak muda membeli banyak ragam ponsel 3G, dari yang modelnya sederhana sampai yang kompleks, dari yang memiliki papan ketik QWERTY, sampai layar sentuh sebagai media interaksinya.
Layanan 3G di Indonesia diawali oleh dua operator seluler pada tahun 2006, yaitu Telkomsel dan Excelcomindo (XL), di mana Telkomsel melakukan peluncuran pengoperasian jaringan 3G pada pertengahan Agustus 2006 yang disusul oleh XL pada September 2006. Bisnis Indonesia pada tanggal 16 April 2008 menuliskan bahwa penetrasi pelanggan aktif 3G memasuki tahun kedua penggelaran layanan Telekomunikasi generasi ketiga (3G) baru mencapai 1,7% dari pelanggan empat operator seluler penyedia layanan 3G, yaitu PT Telkomsel, PT Indosat, PT Excelcomindo (XL) dan PT Hutchison CP Telecommunications (3).   
        Di Indonesia, para operator 3G menawarkan dua jenis layanan yang bekerja pada jaringan 3G. Layanan pertama adalah jenis layanan circuit switched, yaitu layanan Video Call. Video Call memungkinkan antarpengguna berkomunikasi dengan suara dan video, sehingga dapat melihat wajah satu sama lain. Pengembangan fitur dari Video Call ini sangat beragam, di antaranya adalah Mobile TV dan Traffic Monitoring. Pada Mobile TV, pelanggan dapat melakukan Video Call ke suatu nomor tertentu yang akan terhubung ke suatu stasiun TV sehingga dapat menikmati siaran TV dari ponselnya secara live. Pada layanan Traffic Monitoring, pelanggan dapat melihat kondisi lalu lintas di daerah tertentu, sehingga dapat menentukan rute jalan yang pelanggan pakai dengan pertimbangan kemacetan lalu lintas.
Jenis kedua adalah layanan packet switched, yaitu layanan komunikasi data kecepatan tinggi. Jenis ini dapat dianggap sebagai koneksi pita lebar (broadband) melalui jaringan nirkabel GSM. Pelanggan dapat melakukan browsing Internet, mengunduh lagu, video, dan sebagainya dengan kecepatan tinggi. Layanan ini juga memungkinkan untuk menjalankan aplikasi-aplikasi mobile client yang mengakses Internet, seperti Yahoo Messenger, MSN Messenger, Mobile Online Game yang membutuhkan koneksi Internet.
Mengacu pada internetworldstats.com, Indonesia masuk sebagai sepuluh besar pengguna internet di Asia, dengan jumlah pengguna per Mei 2008 adalah sebesar 25 juta orang. Dibandingkan dengan total penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 237,5 juta orang, maka dapat dikatakan pertumbuhan yang pesat masih sangat dimungkinkan.


Asia Top Internet Countries

Gambar 1. Penetrasi Internet di 10 Negara Asia


Dan bila membandingkan perkembangan dari tahun 2000, pengguna internet pada tahun 2008 sudah bertumbuh sebesar 1250% dengan perkembangan penetrasi sebesar 1050%.

YEAR
Users
Population
% Pen.
GDP p.c.*
Usage Source
2000
2,000,000
206,264,595
1.0 %
US$ 570
2007
20,000,000
224,481,720
8.9 %
US$ 1,280
2008
25,000,000
237,512,355
10.5 %
US$ 1,925
Note: Per Capita GDP in US dollars, source: United Nations Department of Economic and Social Affairs.

Tabel 1. Pendapatan Perkapita dari Pengguna Internet



PERMASALAHAN

Apakah penggunaan teknologi 3G oleh masyarakat Indonesia sudah efektif dan efisien?

TINJAUAN TEORI

        3G adalah sebuah system aplikasi yang mengembangkan fungsi jaringan (NETWORK) yang selama ini ada. Paul Saffo pada awal 1990 meramalkan mengenai pengaruh dari teknologi informasi terhadap perkerjaan, penyelenggaraan bisnis dan hidup kita. Jawabannya adalah jaringan (NETWORK) akan mengubah segalanya. Sedikitnya ada 5 alasan kenapa orang membutuhkan jaringan (Network):
  1. Penyebaran sumber teknologi;
  2. Penyebaran data;
  3. Menyalurkan proses data;
  4. Meningkatkan komunikasi;
  5. Memperluas pemasaran.

Pada buku Managing Technology Information edisi keenam, dijelaskan bahwa Networking, alat penyebar secara geografis yang merupakan penghubung elektronik adalah sangat penting bagi organisasi modern saat ini dan untuk berpartisipasi secara efektif, seorang manager perlu mengerti ragam dari pilihan telekomunikasi dan jaringan yang tersedia untuk kebutuhan organisasi mereka. Secara sederhana tele mempunyai maksud operasi jarak jauh sehingga telekomunikasi adalah komunikasi jarak jauh. Telekomunikasi meliputi suara (telephone) dan data komunikasi (text dan image).
Fungsi-fungsi dari jaringan telekomunikasi adalah sebagai berikut: (Managing Information Technology, sixth edition, author: Carol V. Brown, Daniel W. DeHayes, Jeffrey A. Hoffer, E. Wainright Martin, William C. Perkins)

Fungsi
Penjelasan
Transmission

Proccesing

Editorial

Conversion

Routing
Network Controlling

Interface

Pergerakan dari suara dan atau data memakai jaringan dan media dasar
Memastikan bahwa komunikasi bebas eror mencapai tujuan yang sesuai
Pengecekan kesalahan dan menaruh komunikasi pada bentuk telah distandarisasi
Merubah system kodifikasi atau ketika pergerakan dari satu perangkat ke perangkat lain
Pemilihan jalur tersedia yang paling efisien
Menjaga status jalur dari elemen-elemen jaringan (Network) untuk melihat seandainya komunikasi siap terkirim
Penanganan interaksi antara pemakai dan jaringan

Tabel 2. Fungsi-fungsi Jaringan Komunikasi

Elemen kunci dari komunikasi dan jaringan adalah sebagai berikut:
1. Analog dan Digital Signal
2. Speed of Transmission
3. Types of Transmission Lines
4. Transmission Media

Hal-hal tersebut diatas sangat mempengaruhi kinerja sebuah jaringan. Pada transmission media terdapat 5 jenis media yang dapat digunakan sebagai pembentuk jaringan, yaitu:
  1. Twisted pair, adalah penggunaan kabel sebagai pembentuk jaringan yang terdiri dari 2 kabel tembaga yang terlindung
  2. Coaxiale Cable, adalah transmisi medium umum lain yang menggunakan kabel coaxial yang terdiri dari kabel tembaga berat pada pusatnya yang kemudian diselimuti material insulasi
  3. Wireless, adalah teknologi siaran dengan menggunakan gelombang radio yang mengudara. Komunikasi tanpa kabel (Wireless Comunication) dipakai pada beragam kondisi, termasuk telephone tanpa kabel, telephone selular, LAN tanpa kabel dan transmisi suara dan data tanpa kabel
  4. Sattelite, variasi khusus transmisi tanpa kabel yang menggunakan komunikasi satelit untuk menyambungkan titik-titik komunikasi jarak jauh

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa 3G adalah perkembangan teknologi pada sistem GSM yang memungkinkan komunikasi data dan suara yang lebih cepat. Dengan kecepatan yang tinggi ini, memungkinkan pengguna untuk berkomunikasi melalui video call dan juga mengakses Internet dengan kecepatan yang cukup tinggi pada era sekarang ini.
        Istilah “3G” digunakan berdasarkan inisiatif dari International Telecommunication Union (ITU) untuk membuat suatu standar dari sistem nirkabel global yang disebut International Mobile Telecommunications-2000 (IMT-2000). Konsep standar tunggal ini kemudian diubah menjadi beberapa lima standar nirkabel 3G. Pada akhir tahun 2006, konsep keenam ditambahkan. Di antara enam standar ini, yang paling sering digunakan adalah CDMA2000® dan WCDMA (UMTS).

3G Technology
Peak Data-rate (Mbps)
CDMA2000 1X
0.153
CDMA2000 EV-DO Rel 0
2.4
CDMA2000 EV-DO Rev A
3.1
CDMA2000 EV-DO Rev B*
up to 73.5
WCMDA/UMTS
0.384
HSDPA (Downlink) / HSUPA (Uplink)
up to 14.4 / 5.72
HSPA+ (Evolved HSPA)* Sampai 42
up to 42

Tabel 3. Kecepatan Puncak pada Teknologi 3G

        CDMA2000® umumnya digunakan pada jaringan CDMA, sedangkan WCDMA (UMTS) digunakan oleh jaringan GSM. Mengacu pada standar ITU, jaringan 3G harus memenuhi kebutuhan akses Internet pita lebar, yang bisa dibandingkan dengan jaringan kabel, yaitu DSL (Digital Subscriber Lines). Kecepatan data maksimal untuk teknologi 3G disajikan pada tabel di atas.
Secara umum ITU-T mendefinisikan 3G sebagai sebuah solusi nirkabel yang bisa memberikan kecepatan akses:
  1. Sebesar 144 Kbps untuk kondisi bergerak cepat (mobile);
  2. Sebesar 384 Kbps untuk kondisi berjalan (pedestrian);
  3. Sebesar 2 Mbps untuk kondisi statis di suatu tempat.
3G menjadi penting karena ia merupakan sarana yang murah bagi tersedianya akses suara dan data, khususnya di wilayah pedesaan dengan akses sambungan telepon darat yang terbatas atau tidak ada sama sekali.


Tabel 4. Karakteristik Penting Teknologi 3G




PEMBAHASAN

Pertumbuhan Content 3G di Indonesia
Sejatinya, 3G lahir bukan terbentuk atas dorongan keinginan dan kebutuhan konsumen seluler (market driven) melainkan lebih didominasi oleh usaha vendor dan operator untuk meningkatkan kemampuan teknologi seluler yang ada sekarang ini (technology driven). Di mana bahkan terjadi salah paham dalam benak banyak konsumen awam di mana mereka menyempitkan 3G sebagai teknologi untuk berbicara dengan tatap muka (video call) saja.

Seperti yang dijelaskan di atas, pada dasarnya layanan 3G merupakan kombinasi suara, teks, gambar dan video (gambar bergerak) dengan dukungan teknologi yang berkemampuan untuk melakukan pengiriman data yang besar dengan cepat. Yang menjadi masalah disini adalah bahwa terkait dengan konten, hanya sedikit saja content yang benar-benar bagus.
Menurut praktisi telekomunikasi, Anton Timur[1], Mayoritas konten 3G berupa hiburan (entertainment), olah raga (sport), permainan (games), musik, komunitas (community), berita (news), bisnis, dan pengamatan (surveillance). Dengan kapasitas aplikasi yang lebih besar dan powerful daripada GSM, 3G bisa dieksplorasi lebih jauh untuk menghasilkan konten yang melimpah. Di Indonesia saat ini diperkirakan terdapat sekitar 200 content provider dan jika diasumsikan rata-rata membuat sepuluh konten 3G maka akan ada 2000 konten yang bisa ditawarkan kepada konsumen seluler. Jumlah yang sebenarnya cukup banyak. Namun masalahnya tidak semua konten serta merta diminati oleh konsumen seluler. Hanya beberapa konten unggulan yang bakal layak dan laku dijual.
Masih menurut Anton, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menghasilkan konten unggulan, yaitu:
1.                  Selera lokal;
2.                  Mengikuti trend;
3.                  Memperhatikan target yang hendak dibidik;
4.                  Memilih momentum yang tepat;
5.                  Mengatasi tantangan aplikasi 3G;
Misalkan untuk live mobile TV yang tidak didukung oleh kenyamanan layar ponsel 3G atau baterai piranti yang cepat habis. Sedangkan untuk video on demand ada banyak CD, VCD dan DVD bajakan, ataupun untuk download musik dan video klip serta online games di mana banyak warnet yang menyediakan hal tersebut. Untuk mobile broadband, banyak hotspot WiFi yang semakin banyak dan bahkan beberapa ISP menyediakannya dengan cuma-cuma.
6.                  Brand new content. Bukan konten yang itu-itu saja dan membosankan;
7.                  Interkoneksi konten 3G, di mana konten lebih menarik bila dapat diakses antar pelanggan 3G yang berbeda operator.


Keberhasilan Implementasi 3G di Indonesia
Keberhasilan implementasi 3G berbeda-beda di masing-masing negara. Di Jepang dan Korea Selatan, kehadiran 3G menuai sukses, sedangkan untuk kawasan Eropa malah mengalami kerugian.
Beberapa elemen yang dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan implementasi 3G antara lain:
1.                  Dukungan pemerintah. Pemerintah Jepang tidak mengenakan biaya di muka (upfront fee) atas penggunaan lisensi spektrum 3G atas operator-operator di Jepang (ada tiga operator: NTT Docomo, KDDI dan Vodafone). Sedangkan pemerintah Korea Selatan, walau pun mengenakan biaya di muka, memberikan insentif dan bantuan dalam pengembangan nirkabel pita lebar (Korea Selatan adalah negara yang menggunakan Cisco Gigabit Switch Router terbanyak di dunia) sebagai bagian dalam strategi pengembangan infrastruktur;
2.                  Kultur masyarakatnya. Layanan video call, yang diramal menjadi killer application tidak terlalu banyak digunakan di kedua negara tersebut. Namun, layanan seperti download music dan akses Internet sangat digemari. Operator seperti NTT Docomo (Jepang) memberikan layanan Chaku Uta untuk download music. Sedangkan di Korea, layanan web presence seperti Cyworld yang diberikan oleh SK Telecom, sangat digemari. Dengan layanan ini, pelanggan bisa mengambil foto dari handset dan langsung memuatnya ke web portal miliknya di Cyworld. Layanan ini kemudian ditiru oleh Flickr dengan handset N73;
3.                  Keragaman Layanan Konten. Docomo dan SK Telecom tidak menggunakan WAP standar sebagai layanan kontennya. Docomo mengembangkan aplikasi browser yang disebut iMode, sedangkan SKTel mempunyai June dan Nate.

Namun melihat apa yang terjadi di Indonesia, mengutip dari blog Adi Arifin[2], ada beberapa alasan yang membuat implementasi 3G di Indonesia direspon dengan nada pesimis oleh banyak ahli telekomunikasi, yaitu antara lain:
1.                  Pemerintah terkesan tiba-tiba membuka tender lisensi 3G pada pertengahan tahun 2003 tanpa publikasi yang cukup dan konsultasi public, padahal seharusnya pemerintah mencari masukan dahulu dari masyarakat agar dipertimbangkan oleh regulator dan akhirnya menjadi kebijakan Negara;
2.                  Indonesia mungkin belum saatnya memakai teknologi telepon seluler 3G, Singapura saja sempat menunda implementasi 3G karena membutuhkan investasi yang mahal;
3.                  Untuk menikmati teknologi ini dibutuhkan handset yang harganya lebih mahal bagi mayoritas pengguna seluler di Indonesia yang saat ini banyak memakai handset tipe low-end;
4.                  Data menunjukkan 70-85% pemasukan operator berasal dari voice, 10-25% berasal dari SMS, sisanya data serta content masih dibawah 5%. Artinya banyak pelanggan yang sudah cukup puas dengan layanan voice dan SMS, mereka tidak membutuhkan aplikasi multimedia yang kompleks. MMS yang terkirim dalam sehari saja baru mencapai angka 20ribuan, sangat jauh dari jumlah SMS. Entah kapan jumlah MMS akan menyamai jumlah SMS;
5.                  Yang paling penting adalah soal tarif. Semakin tinggi teknologinya maka semakin mahal tarifnya. Disini banyak pengguna yang berpikir ulang soal biaya yang akan dikeluarkannya.

Selain faktor-faktor di atas, industri content 3G juga makin dibebani dengan kebijakan pemerintah yang sedianya akan menerapkan BHP (Biaya Hak Penggunaan) Frekuensi. Menurut interpretasi pemerintah, industri mobile content di Indonesia, seperti penjualan informasi via SMS, download wallpaper, ringtone, logo, screensaver, bahkan sampai layanan Ring Back Tone (RBT) adalah subjek dari BHP, oleh karena itu wajib membayar BHP Frekuensi. Hal ini menjadi bertentangan dengan pertumbuhan mobile content untuk jaringan 3G.

Dampak Teknologi 3G
Teknologi 3G membawa dampak yang positif maupun yang negatif. Dampak positif antara lain adalah memperoleh layanan jasa telekomunikasi dan informasi yang lengkap selain untuk sekedar menelepon dan menulis sms, yaitu mengakses internet, merekam gambar dan video serta merekam file gambar dengan cepat dengan ukuran yang besar, menonton TV, dan juga melakukan video call. Pada intinya teknologi 3G sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia di mana memampukan manusia untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi secara cepat dan praktis.

        Namun dampak negatif yang ditimbulkannya juga tidak sedikit, di mana penyalahgunaan dari teknologi 3G sering terjadi dan menyimpang dari moral dan norma serta etika yang berlaku. Hal yang paling sering terjadi adalah perekaman dan penyebaran melalui download dan upload gambar dan video porno atau hal lain yang menyimpang baik dari agama, moral, dan etika yang berlaku. Selain itu ditakutkan, teknologi ini akan membentuk masyarakat yang malas di mana kemudahan dan kepraktisan dari 3G yang sangat memanjakan penggunanya. Selain itu juga ditakutkan adanya penggunaan yang tidak bertanggungjawab seperti propaganda dan spionase yang bisa merugikan.


Analisis Mengenai Teknologi 3G di Indonesia
Saat ini, teknologi 3G telah memasuki ranah pribadi dari pengguna layanan telekomunikasi di Indonesia. Pelanggan dapat menggunakan teknologi 3G sebagai sarana komunikasi, bertukar data, sarana hiburan, transaksi elektronik, dan banyak hal lagi. Dari sisi operator 3G, layanan yang ditawarkan juga makin beragam.

Dilihat dari berbagai aspek, ada beberapa kelebihan dan kekurangan implementasi teknologi 3G di Indonesia. Beberapa kelebihannya adalah:
  1. Memicu pertumbuhan teknologi komunikasi seluler;
  2. Memberikan kemudahan bagi pengguna untuk mengakses informasi dari Internet, yang akibatnya adalah ketersediaan informasi yang nyaris tidak terbatas bagi masyarakat Indonesia;
  3. Memperluas penetrasi komunikasi dan Internet ke pelosok pedesaan, yang tidak terjangkau oleh jaringan komunikasi kabel;
  4. Memicu industri kreatif dari content 3G, misalnya disain grafis, animasi, online game, aplikasi perkantoran, aplikasi monitoring atau surveilance, transaksi bisnis dan keuangan, dan sebagainya.

Namun di luar dampak positif yang timbul, ada dampak negatif yang tidak mungkin dihindari, yaitu:
  1. Keamanan informasi. Semakin banyaknya informasi dipertukarkan membuat beberapa informasi yang seharusnya berada pada ranah pribadi menjadi bisa diakses oleh publik;
  2. Krisis etika dan penyalahgunaan akses. Ada trend yang mengatakan bahwa layanan 3G hanya menyuburkan industri “3G” (Girl, Gambling, Games). Karena tingkat edukasi yang rendah, menyebabkan industri ini menjadi sarana untuk prostitusi, perjudian, dan games.

Untuk mengetahui apakah masyarakat Indonesia sudah efektif dan efisien dalam menggunakan teknologi 3G ini, kita dapat melihat pada dua parameter di bawah ini:
  1. Apakah teknologi 3G sudah digunakan secara efektif, dalam artian memberikan perubahan yang signifikan dalam perilaku masyarakat, khususnya dalam hal yang positif?
  2. Apakah investasi 3G sudah dimanfaatkan secara efisien, yaitu tingkat pemakaian (utilization) yang cukup tinggi?

Perubahan signifikan dapat kita temui dalam perilaku masyarakat kita, seperti:
  • Adanya produk wireless broadband menyebabkan masyarakat dapat mengakses Internet kapan saja dan di mana saja, dengan menggunakan jaringan 3G dan modem 3G / HSDPA / HSUPA. Dengan adanya wireless broadband ini memungkinkan masyarakat berinteraksi melalui media Internet, seperti penggunaan layanan Internet Messaging (YM, MSN Messenger, dsb), Social Networking (Friendster, Facebook, dsb), Blogging (blogspot, wordpress, dsb), dan sarana interaksi atau pertukaran informasi lainnya;
  • Masyarakat mulai terbiasa dengan produk push email, di mana pengguna dapat mengakses email kapan dan di mana saja, dengan menggunakan perangkat bergerak (mobile devices) mereka;
  • Munculnya content 3G yang beragam, misalnya siaran TV live melalui perangkat bergerak, download lagu / video dari ponsel, dsb.

Di sisi lain, masih kita temui bahwa penetrasi 3G belum mengubah kehidupan masyarakat. Di kota-kota di daerah Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur, misalnya, penggunaan teknologi 3G di sana belum begitu populer. Kebanyakan masyarakat tidak menggunakan teknologi 3G untuk melakukan video call atau akses Internet. Kendala yang dihadapi bisa jadi karena 3 (tiga) hal yaitu: ketaktersediaan perangkat bergerak yang mendukung teknologi 3G, tarif layanan 3G yang masih relatif mahal, dan sosialisasi layanan kepada masyarakat. Pada kasus ini, utilization jaringan 3G masih sangat rendah, yang bisa dipandang sebagai investasi yang kurang baik.


Kesimpulan
Teknologi 3G adalah salah satu enabler bagi kemajuan bangsa. Perkembangan teknologi 3G tidak mungkin dihindari oleh masyarakat Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia. Dengan adanya teknologi 3G, masyarakat makin mudah untuk melakukan komunikasi, seperti bertatap wajah jarak jauh, ataupun melakukan pertukaran data melalui jaringan Internet.

Saat ini teknologi 3G telah mengubah perilaku masyarakat dalam hal berinteraksi dan bertukar informasi. Mulai dari video call yang memungkinkan tatap muka langsung secara jarak jauh, sampai ke akses Internet yang memungkinkan masyarakat berinteraksi lewat piranti-piranti Internet Messaging. Peranan 3G terbukti dalam mengubah perilaku interaksi masyarakat menjadi lebih efektif dan efisien.


Referensi
http://telco-articles.blogspot.com/2006/09/mencari-konten-3g-unggulan.html
http://www.adiarifin.web.id/penerapan-teknologi-3g-di-indonesia.htm
Managing Information Technology, 6th ed. Carol V Brown, Daniel W DeHayes, Jeffrey A Hoffer, E Wainright Martin, William C Perkins
http://www.internetworldstat.com


[1] http://telco-articles.blogspot.com/2006/09/mencari-konten-3g-unggulan.html
[2] http://www.adiarifin.web.id/penerapan-teknologi-3g-di-indonesia.htm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar